Selasa, 01 Juli 2014

Konvergensi IFRS

AKUNTANSI INTERNASIONAL
Disusun oleh:
Agus Nuramin (20210331)
Maretta Fransiska (24210200)
Odelia JelitaK (25210245)
Risma Puspitasari (26210052)
Zulfa Amalia Anugrah (28210836)
KELAS : 4EB04

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang Masalah
Di dalam akuntansi keuangan dikenal adanya standar yang harus dipatuhi dalam pembuatan laporan keuangan. Standar tersebut diperlukan karena banyaknya pengguna laporan keuangan. Jika tidak terdapat standar, perusahaan dapat saja menyajikan laporan keuangan yang mereka miliki sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Hal ini tentunya akan menjadi masalah bagi para pengguna karena akan menyulitkan untuk memahami laporan keuangan yang ada.
Setiap negara tentunya mempunyai aturan akuntansi (standar) yang berbeda-beda. Perbedaan itu mencakup perlakuan, metode, penyajian dan pelaporan. Perbedaan akuntansi tiap Negara akan menyulitkan bagi para pengguna laporan keuangan terutama bagi para analis, auditor, investor, dan kreditur yang lingkup kerjanya melewati batas Negara. Ketika dunia bisnis dapat dikatakan hampir tanpa batas Negara, sumber daya produksi (misalnya uang) yang dimiliki oleh seorang investor di satu Negara tertentu dapat dipindahkan dengan mudah dan cepat ke Negara lain misalnya melalui mekanisme bursa saham. Tentu saja akan timbul suatu masalah ketika standar akuntansi yang dipakai di Negara tersebut berbeda dengan standar akuntansi yang dipakai di Negara lain. Agar pemahaman laporan keuangan menjadi lebih mudah, maka perlu ditetapkannya suatu aturan atau standar yang seragam. Atas dasar hal tersebut muncullah isu konvergensi. Dengan adanya konvergensi diharapkan dapat menjembatani persepsi yang keliru dalam mengartikan laporan keuangan karena semua Negara aturannya seragam dengan pemahaman yang sama. Jadi dengan konvergensi, diharapkan tidak akan ada lagi persepsi yang salah dalam menginterpretasikan laporan keuangan.
Maka berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik mengangkat judul “Analisis Konvergensi PSAK ke IFRS.”

1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah bagaimana perbandingan antara PSAK sebelum dan sesudah konvergensi IFRS.

1.3.  Batasan Masalah
Untuk batasan atau ruang lingkup masalah, data yang digunakan dalam pembahasan ini adalah buku PSAK 1 (Penyajian Laporan Keuangan), PSAK 3 (Laporan Keuangan Interim), dan PSAK 16 (Aset Tetap), dan sebagai perbandingan digunakan data-data IFRS/ IAS yakni IAS 1 (Presentation of Financial Statement), IAS 34 (Interim Financial Report), dan IAS 16 (Property, Plant, and Equipment).

1.4.  Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui beberapa perubahan dalam penerapan PSAK 1, PSAK 3, dan PSAK 16 yang berbasis IFRS (IAS 1, IAS 34, dan IAS 16) dan membandingkannya. Ini merupakan salah satu cara dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi konvergensi IFRS.
BAB II
PEMBAHASAN


2.1.Definisi PSAK dan IFRS
PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) adalah standar yang digunakan untuk pelaporan keuangan di Indonesia.  PSAK digunakan sebagai pedoman akuntan dalam membuat laporan keuangan. Sedangkan IFRS (International Financial Reporting Standard) merupakan pedoman penyusunan laporan keuangan yang diterima secara global/ internasional. Indonesia sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi dunia telah merespon perubahan-perubahan sistem pelaporan keuangan terkini dengan melakukan konvergensi IFRS kedalam PSAK. Dengan mengadopsi IFRS, Indonesia akan mendapatkan tujuh manfaat sekaligus, yaitu:
  1. Meningkatkan kualitas Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
  2. Mengurangi biaya SAK.
  3. Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.
  4. Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.
  5. Meningkatkan transparansi keuangan.
  6. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui pasar modal.
  7. Meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.


2.2.PSAK 1 (Penyajian Laporan Keuangan)
Pernyataan ini mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan keuangan, persyaratan minimum, dan isi laporan keuangan. Entitas menerapkan Pernyataan ini dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan. Pernyataan ini tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas syariah.
Secara umum perbedaan ED PSAK 1 (Revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan dengan PSAK 1 (Revisi 1998): 
Penyajian Laporan Keuangan adalah sebagai berikut:
Perihal
ED PSAK 1 (Revisi 2009)
PSAK 1 (Revisi 1998)
Referensi
ED PSAK 1 (Revisi 2009) mengadopsi IAS 1 Presentation of Financial Statements (2009) IFRS
PSAK 1 (Revisi 1998) mengadopsi IAS 1Disclosure of Accounting Policies (1997) GAAP
Terjemahan untuk liability
Liabilitas
Kewajiban
Definisi istilah
Terdapat definisi istilah yang digunakan, yaitu laporan keuangan untuk tujuan umum, tidak praktis standar akuntansi keuangan, material, catatan atas laporan keuangan,penghasilan komprehensif lain, pemilik, laba atau rugi.
Tidak terdapat definisi istilah yang digunakan. 
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan meliputi:
a. Aset
b. Liabilitas
c.Ekuitas
d.Pendapatan dan
e.Kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik
f. Arus kas
Informasi yang disajikan dalam laporan meliputi:
a. Aset
b. Kewajiban
c. Ekuitas
d. Pendapatan dan beban
e. Arus kas
Tanggung jawab atas laporan keuangan
Tidak mengatur mengenai pihak yang bertanggung jawab atas laporan keuangan.
Manajemen bertanggung jawab atas laporan keuangan.
Komponen laporan keuangan yang lengkap
Komponen keuangan yang lengkap:
Laporan posisi keuangan (neraca)
Laporan laba rugi komprehensif
Laporan perubahan ekuitas
Laporan arus kas
Catatan atas laporan keuangan
Laporan posisi keuangan awal periode komparatif sajian akibat penerapan retrospektif, penyajian kembali, atau reklasifikasi pos-pos laporan keuangan
Komponen laporan keuangan yang lengkap:
Neraca
Laporan laba rugi
Laporan perubahan ekuitas
Laporan arus kas
Catatan atas laporan keuangan
Kepatuhan terhadap SAK
Entitas membuat pernyataan kepatuhan atas SAK dalam laporan
Tidak diatur bahwa laporan keuangan yang memuat pernyataan kepatuhan entitas atas SAK.
Penyimpangan dari suatu PSAK
Penyimpangan dari suatu PSAK diijinkan jika kepatuhan atas PSAK tersebut bertentangan dengan tujuan laporan keuangan dalam KDPPLK.
Tidak diatur adanya penyimpangan dari suatu PSAK
Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi ketika tidak diatur dalam PSAK
Tidak diatur bagaimana memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi ketika tidak diatur dalam suatu PSAK. Hal tersebut akan diatur dalam PSAK 25, jika PSAK 25 sudah mengadopsi IAS 8 terkini.
Terdapat pengaturan bagaimana memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi ketika tidak diatur dalam suatu PSAK.
Tepat waktu
Tidak diatur kapan entitas sebaiknya mengeluarkan laporan keuangan
Entitas sebaiknya mengeluarkan laporan keuangan paling lama 4 bulan setelah tanggal neraca.
Klasifikasikan liabilitas yang dibiayai kembali
Liabilitas keuangan yang dibiayai kembali yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan setelah periode pelaporan diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek, jika entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk membiayai kembali.
Liabilitas tersebut diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka panjang.
Klasifikasi liabilitas yang terjadi pelanggaran, perjanjian utang.
Pelanggaran perjanjian utang yang mengakibatkan kreditur meminta percepatan pembayaran, maka liabilitas tersebut disajikan sebagai liabilitas jangka pendek, meskipun kreditur mengijinkan penundaan pembayaran selama 12 bulan setelah tanggal pelaporan tetapi persetujuan tersebut diperoleh setelah tanggal pelaporan.
Tidak diatur mengenai hal tersebut.
Pos luar biasa
Penggunaan istilah “pos luar biasa” tidak diperkenankan.
Penggunaan istilah “pos luar biasa” diperkenankan.
Pos-pos yang minimal harus disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif.
Pos-pos berikut termasuk yang minimal disajikan dalam laporan laba rugi (bagian dari laporan laba rugi komprehensif):
Beban keuangan
Keuntungan atau kerugian dari operasi yang dihentikan.
Bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang menggunakan metode ekuitas.
Pos-pos yang minimal disajikan dalam laporan laba rugi tidak termasuk:
Beban keuangan
Keuntungan atau kerugian dari operasi yang dihentikan.
Bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang menggunakan metode ekuitas.

2.2.1.   Perbedaan ED PSAK 1 (Revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan dengan IAS 1 (2009): Presentation of Financial Statements
ED PSAK 1 (2009): Penyajian Laporan Keuangan mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 1 (2009): 
Presentation of Financial Statements, kecuali untuk paragraf-paragraf berikut:
IAS 1 paragraf 2 yang menjadi PSAK 1 paragraf 2 mengenai ruang lingkup, yang mana ditambahkan kalimat yang menyatakan bahwa PSAK 1 tidak berlaku untuk entitas syariah karena penyajian laporan keuangan syariah diatur dalam PSAK 101:Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
IAS 1 paragraf 5, mengenai penerapan IAS 1 bagi entitas nirlaba dan entitas sektor publik, dihilangkan. Karena pelaporan keuangan entitas nirlaba diatur dalam PSAK 45: Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba dan entitas sektor publik diatur dalam standar akuntansi pemerintah bukan standar akuntansi keuangan.
IAS 1 paragraf 6, mengenai penerapan IAS 1 bagi entitas tanpa ekuitas (misalnya reksa dana) dan entitas yang modalnya bukan ekuitas (misalnya koperasi), dihilangkan. Karena penyajian laporan keuangan reksa dana diatur dalam PSAK 49:Akuntansi Reksa Dana dan koperasi diatur dalam PSAK 27: Akuntansi Perkoperasian.
Implementation Guidance dari IAS 1 tentang ilustrasi penyajian laporan posisi keuangan disesuaikan dengan penyajian laporan posisi keuangan (neraca) yang selama ini berlaku di Indonesia. Implementation Guidance tersebut menyajikan laporan posisi keuangan.

2.3.PSAK 3 (Laporan Keuangan Interim)
Pernyataan ini diterapkan bagi entitas yang disyaratkan atau memilih untuk menerbitkan laporan keuangan interim sesuai SAK, tidak mengatur entitas yang disyaratkan menerbitkan laporan keuangan interim. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan, baik laporan keuangan lengkap atau laporan keuangan ringkas untuk suatu periode interim.Periode interim merupakan suatu periode yang lebih pendek dari satu tahun buku penuh.Secara umum perbedaan antara ED PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim dengan PSAK 3 (1994): Laporan Keuangan Interim adalah sebagai berikut:
Perihal
ED PSAK 3 (revisi 2010)
PSAK 3 (1994)
Ruang lingkup
Tidak menentukan entitas yang harus menerapkan PSAK ini.
Entitas yang diwajibkan atau memilih untuk menyajikan laporan keuangan interim harus mengikuti ketentuan dalam PSAK ini.
Perusahaan yang diwajibkan oleh peraturan perundangan yang berlaku.
Pandangan terkait Laporan Keuangan Interim
Tidak dijelaskan.
Laporan Keuangan Interimmerupakan bagian integraldengan laporan keuangan

Isi Laporan Keuangan Interim
Laporan Keuangan Interimlengkap atau Laporan Keuangan Interim ringkas.
Tidak dijelaskan.
Komponen minimal Laporan Keuangan Interim
Laporan posisi keuangan ringkas dan laporan laba rugikomprehensif ringkas.
Tidak dijelaskan.
Format dan isi Laporan Keuangan Interim
Laporan keuangan interim lengkap mengikuti PSAK 1.
Laporan keuangan interim ringkas minimal mencakup judul dan subjudul dalam laporan keuangan tahunan dan catatan penjelasan.
Tidak dijelaskan.
Catatan penjelasan tertentu dan kepatuhan terhadap SAK
Penjelasan mengenai catatan penjelasan tertentu dan informasi minimalnya.
Pengungkapan kepatuhan terhadap SAK.
Tidak dijelaskan.
Periode laporan keuangan Interim komparatif
Laporan posisi keuangan per periode interim dengan tahun buku sebelumnya.
Laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas komparatif dengan periode interim sebelumnya.
Tidak dijelaskan.
Perubahan estimasi signifikan pada periode interim terakhir
Perubahan estimasi signifikan yang diterjadi pada periode interim terakhir harus diungkapkan dalam laporan keuangan tahunan.
Tidak dijelaskan.
Pendapatan musiman, siklusan, dan tidak teratur
Pedapatan musiman, siklusan, dan tidak teratur dapat diantisipasi atau ditangguhkan.
Tidak dijelaskan.
Beban yang tidak beraturan
Beban yang tidak beraturan dapat diantisipasi atau ditangguhkan.
Tidak dijelaskan.


2.3.1.   Perbedaan ED PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim dengan IAS 34       Interim Financial Reporting per 1Januari 2009 ED PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim mengadopsi seluruh IAS 34 Interim Financial Reporting per1 Januari 2009, kecuali:
IAS 34 paragraf 1 yang menjadi ED PSAK 3 (revisi 2010) tentang ruang lingkup dengan menghilangkan anjuran untuk entitas yang menjual efeknya ke publik untuk menyajikan laporan keuangan interim. Hal ini sudah diatur oleh peraturan yang berlaku.
IAS 34 paragraf 14 tentang interaksi antara laporan keuangan interim dengan laporan keuangan interim, tidak diadopsi. Hal ini disesuaikan dengan pengaturan laporan keuangan konsolidasian dalam PSAK 4 (revisi 2009): Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri.
IAS 34 paragraf 46 yang menjadi ED PSAK 3 (revisi 2010) tentang tanggal efektif dengan menghilangkan penerapan dini. Pertimbangannya penerapan dini hanya dapat dilakukan dengan tepat jika seluruh pengaturan dalam IFRSs diadopsi secara bersamaan menjadi SAK. Adopsi IFRSs menjadi SAK di Indonesia dilakukan secara bertahap.
IAS 34 paragraf 47 dan 48 tentang tanggal efektif untuk dampak amandemen IFRSs, tidak diadopsi. Hal ini tidak relevan karena IFRSs yang diamandemen belum diadopsi sebelumnya.
IAS 34 appendix B paragraf B31-B33 yang menjadi ED PSAK 3 lampiran B paragraf B31-B33 tentang pelaporan keuangan interim pada ekonomi hiperinflasi dengan menghilangkan rujukan ke PSAK, karena ekonomi hiperinflasi belum diatur dalam PSAK tersendiri.

2.4.PSAK 16 (Aset Tetap)
Aset tetap adalah aset berwujud (tangible) yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode,“digunakan dalam operasi” dan tidak untuk dijual kembali, bersifat jangka panjang dan biasanya disusutkan.Secara umum perbedaan antara ED PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap dengan PSAK 16 (2007): Aset Tetap adalah sebagai berikut:
Perihal
ED PSAK 16 (revisi 2011)
PSAK 16 (revisi 2007)
Pengecualian terhadap ruang lingkup
Menambahkan pengecualian ruang lingkup untuk:
aset tetap di­klasifi­kasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang dimiliki untuk dijual dan operasi yang dihentikan
pengakuan dan pengukuran aset eksplorasi dan evaluasi (Lihat PSAK 64: Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi Pada Pertambangan Sumber Daya Mineral)
Hanya mengatur pengecualian ruang lingkup untuk untuk hak penambangan dan reservasi tambang, seperti minyak, gas alam, dan sumber daya alam sejenis yang tidak dapat diperbarui.
Ruang lingkup
Tidak mengatur lagi mengenai properti investasi yang sedang dibangun atau dikembangkan.
Ruang lingkup mencakup properti yang dibangun atau dikembangkan untuk digunakan di masa depan sebagai properti investasi.
Hibah Pemerintah
Tidak mengatur syarat pengakuan aset tetap yang berasal dari hibah. Hanya mengatur nilai tercatat aset tetap yang dapat dikurangi dari hibah pemerintah.
Pengakuan aset tetap yang berasal dari hibah pemerintah mempunyai syarat bahwa:
entitas telah memenuhi kondisi atau prasyarat hibah tersebut;
hibah akan diperoleh.
Aset tetap yang   tersedia untuk dijual
Pengaturan aset tetap yang tersedia untuk dijual dihapus karena sudah diatur dalam PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan.
Mengatur perlakuan akuntansi terhadap suatu aset tetap yang tersedia untuk dijual.
Depresiasi atas tanah
Menjelaskan bahwa pada umumnya tanah memiliki umur ekonomis tidak terbatas sehingga tidak disusutkan, kecuali entitas meyakini umur ekonomis tanah terbatas.Perlakuan akuntansi tanah yang diperoleh dengan Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan lainnya mengacu pada ISAK 25: Hak Atas Tanah
Perlakuan akuntansi untuk tanah yang diperoleh dengan Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan lainnya mengacu pada PSAK 47:Tanah.

2.4.1.   Perbedaan ED PSAK 16 (revisi 2011) dan IAS 16 (2009)
ED PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 16Property, Plant, and Equipment per Januari 2009, kecuali untuk hal-hal sebagai berikut:
ED PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap paragraf 03 mengenai ruang lingkup dimana untuk aset biologik terkait aktivitas agrikultur termasuk dalam ruang lingkup PSAK 16 (revisi 2011). Hal ini berbeda dengan pengaturan yang ada dalam IAS 16Property, Plant and Equipment paragraf 3 dimana aset biologik terkait aktivitas agrikultur dikecualikan dalam ruang lingkup.
ED PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap memberikan tambahan pada paragraf 43 mengenai perubahan kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi yang tidak ada pengaturannya dalam IAS 16.
ED PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap tidak mengadopsi pengaturan dalam IAS 16 paragraf 80 mengenai ketentuan transisi karena tidak relevan.
ED PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap memberikan ketentuan transisi pada paragraf 82 yang tidak ada dalam IAS 16.
ED PSAK 16 (revisi 2011): Aset Tetap tidak mengadopsi pengaturan dalam IAS 16 paragraf 81, 81 A – F mengenai tanggal efektif karena tidak relevan.
IAS 16 Property, Plant and Equipment paragraf 68A mengenai penghentian pengakuan menjadi paragraf 69 pada ED PSAK 16 (revisi 2011) dan nomor paragraf selanjutnya disesuaikan.

BAB III
KESIMPULAN


Indonesia memutuskan untuk berkiblat pada standar pelaporan keuangan internasional atau IFRS. Konvergensi akuntansi Indonesia (PSAK) ke IFRS sangat perlu didukung agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal. Pengakuan maksimal ini didapat dari komunitas internasional yang sudah lama menganut standar ini.
Mengapa harus mengadopsi IFRS? Karena dengan mengadopsi IFRS, Indonesia akan mendapatkan manfaat dari meningkatnya kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global, meluasnya pasar investasi lintas batas negara dan meningkatkan efisiensi alokasi modal. Teknologi informasi yang berkembang pesat juga telah mengubah lingkungan pelaporan keuangan. Kemajuan ini membawa antusiasme jutaan investor (bahkan milyaran) ke lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia, misalnya investor dari America bisa dengan mudah berinvestasi di Eropa/ di Singapore/ bahkan di Indonesia. Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas IFRS akan melindungi investor dalam negeri, karena dengan penerapan standar internasional akan meningkatkan kepercayaan internasional untuk investasi di indonesia.
Nah, menurut pandangan penulis, berdasarkan studi komparatif, terdapat 14 titik perbedaan antara PSAK 1 tahun 1998 dan 2009. Beberapa tanggapan atas PSAK 1 (2009) yang penulis sajikan adalah dari 5 menjadi 6 laporan keuangan, perubahan istilah akuntansi yang baru, dinamika IFRS dan auditing, perubahan klasifikasi aset, penghapusan pos-pos luar biasa, dan waktu penerbitan laporan keuangan. Untuk PSAK 3 tahun 1994 dan 2010, penulis menemukan 10 titik perbedaan, diantaranya perihal ruang lingkup, isi, format, dan komponen minimal laporan keuangan interim, periode, pendapatan, dan beban. Untuk PSAK 16 tahun 2007 dan 2011 terdapat 5 titik perbedaan, diantaranya perihal pengecualian terhadap ruang lingkup, hibah pemerintah, aset tetap yang tersedia untuk dijual, dan depresiasi atas tanah. Perubahan yang dibawa IFRS ini merupakan penyempurnaan standar global yang tidak mengubah dasar-dasar akuntansi selama ini.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.sai.ugm.ac.id/site/images/pdf/ifrs.pdf
http://yuliarahmiaccountingunand08.blogspot.com/2011/04/penyajian-laporan-keuangan.html#!/2011/04/penyajian-laporan-keuangan.html
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Exposure Draft Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan          Penyajian Laporan Keuangan (PSAK No. 1). Jakarta: Salemba Empat.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2010. Exposure Draft Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan          Laporan Keuangan Interim (PSAK No. 3). Jakarta: Salemba Empat.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2011. Exposure Draft Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan          Aset Tetap (PSAK No. 16). Jakarta: Salemba Empat.


Senin, 02 Juni 2014

Analisis Laporan Keuangan Perusahaan yang terdaftar di IDX dan SGX (Tugas 3)

AKUNTANSI INTERNASIONAL
Disusun oleh:
Agus Nuramin (20210331)
Maretta Fransiska (24210200)
Odelia JelitaK (25210245)
Risma Puspita Sari (26210052)
            Zulfa Amalia Anugrah (28210836)
KELAS : 4EB04

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Tujuan laporan keuangan dibuat adalah agar dapat digunakan dalam suatu kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi tersebut dapat berupa menganalisis kesehatan ekonomi perusahaan tersebut. Maka, Untuk dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan finansial suatu perusahaan, perlu diadakan analisa atau interpretasi terhadap data finansial dari perusahaan bersangkutan, dimana data finansial itu tercermin di dalam laporan keuangan. Ukuran yang sering digunakan dalam melakukan analisis adalah ratio.
Menurut Van Horne (2005) : “Rasio keuangan adalah alat yang digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Kita menghitung berbagai rasio karena dengan cara ini kita bisa mendapat perbandingan yang mungin akan berguna daripada berbagai angka mentahnya sendiri.”
Laporan keuangan yang paling sering di analisis dari pihak ke tiga adalah perusahaan-perusahaan yang sudah menerbitkan saham. Perusahaan yang menerbitkan saham tersebut harus sudah terdaftar di dalam Bursa Efek Indonesia (BEI), atau bisa juga di Bursa Efek Singapura (SGX). Di dalam BEI, hanya terdapat perusahaan go public yang terdaftar di dalam cangkupan bisnis Indonesia, sedangkan SGX mencangkup seluruh perusahaan go public di ASIA dan bahkan dunia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

a.       Sejarah Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia (disingkat BEI, atau Indonesia Stock Exchange (IDX)) merupakan bursa hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Demi efektivitas operasional dan transaksi, Pemerintah memutuskan untuk menggabung Bursa Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai pasar obligasi dan derivatif. Bursa hasil penggabungan ini mulai beroperasi pada 1 Desember 2007.

BEI menggunakan sistem perdagangan bernama Jakarta Automated Trading System (JATS) sejak 22 Mei 1995, menggantikan sistem manual yang digunakan sebelumnya.Sejak 2 Maret 2009 sistem JATS ini sendiri telah digantikan dengan sistem baru bernama JATS-NextG yang disediakan OMX.

Bursa Efek Indonesia berpusat di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kawasan Niaga Sudirman, Jalan Jenderal Sudirman 52-53, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Untuk memberikan informasi yang lebih lengkap tentang perkembangan bursa kepada publik, BEI menyebarkan data pergerakan harga saham melalui media cetak dan elektronik. Satu indikator pergerakan harga saham tersebut adalah indeks harga saham. Saat ini, BEI mempunyai beberapa jenis indeks, ditambah dengan sepuluh jenis indeks sektoral. Indeks tersebut adalah :

·         IHSG, menggunakan semua saham tercatat sebagai komponen kalkulasi Indeks.
·         Indeks Individual, yang merupakan Indeks untuk masing-masing saham didasarkan harga dasar.
·         Indeks LQ45, menggunakan 45 saham terpilih setelah melalui beberapa tahapan seleksi.
·         Indeks IDX30, menggunakan 30 saham terpilih setelah melalui beberapa tahapan seleksi.
·         Indeks Kompas100, menggunakan 100 saham pilihan harian Kompas.
·         Indeks Sektoral, menggunakan semua saham yang masuk dalam sektor yang sama.
·         Jakarta Islamic Index, menggunakan 30 saham terpilih yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Bapepam-LK (Kini OJK ).
·         Indonesia Sharia Stock Index (ISSI), yang menggunakan semua saham yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Bapepam-LK (Kini OJK).
·         Indeks Bisnis-27, menggunakan 27 saham terpilih bekerja sama dengan Harian Bisnis Indonesia.
·         Indeks Pefindo25, menggunakan 25 saham terpilih bekerjasama dengan Pefindo.
·         Indeks SRI-KEHATI, menggunakan 25 saham terpilih yang menerapkan prinsip tata kelola yang baik dan kepedulian terhadap lingkungan, bekerjasama dengan Yayasan Kehati.
·        Indeks SMinfra18, menggunakan 18 saham terpilih yang bergerak dalam bidang infrastruktur dan penunjangnya, bekerjasama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).
·         Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan, indeks yang didasarkan pada kelompok saham yang tercatat di BEI yaitu kelompok Papan Utama dan Papan Pengembangan.
b.      Sejarah Bursa Efek Singapura
Bursa efek Singapura (bahasa Inggris: Singapore Exchange atau SGX, SGX: S68) adalah bursa saham yang berlokasi di Singapura, sebelumnya dikenal sebagai Stock Exchange of Singapore (SES) sampai menggabungkan dengan Singapore International Monetary Exchange (SIMEX) pada 30 November 1999. Bursa ini juga memperdagangkan sekuritas lainnya seperti obligasi pemerintah dan derivatif seperti opsi saham. Indeks pasar saham utama SGX adalah Indeks Straits Times (Strait Times Index, STI).

Singapore Exchange Limited adalah perusahaan induk investasi yang memberikan layanan berbeda yang berkaitan dengan perdagangan derivatif dan sekuritas dan lain-lain. SGX adalah anggota World Federation of Exchanges dan Asian and Oceanian Stock Exchanges Federation

Masa perdagangan di bursa SGX adalah 09:00 hingga 17:00 setiap hari kecuali Sabtu, Minggu, dan hari libur yang ditetapkan pengelola bursa sebelumnya.

c.       Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan perusahaan merupakan pembahasan yang sangat penting dalam bidang manajemen keuangan. Menganalisis laporan keuangan berarti kita menilai kinerja perusahaan, baik secara internal perusahaan maupun dibandingkan dengan industrinya. Hal ini berguna bagi perkembangan perusahaan, untuk mengetahui seberapa efektifkah perusahaan mereka bekerja. Analisis ini sangat berguna tidak hanya bagi internal perusahaan, tapi juga investor serta stakeholder lainnya.
Analisis keuangan dilakukan oleh seorang profesional yang menyajikan laporan dalam bentuk rasio yang menggunakan informasi sebagaimana tersaji dalam laporan keuangan. Laporan ini biasanya disajikan kepada pimpinan puncak suatu usaha sebagai acuan untuk mengambil suatu kebijakan perusahaan.

Berdasarkan hasil analisis ini maka manajemen dapat memutuskan berbagai keputusan manajemen misalnya :
·         Melanjutkan atau tidak melanjutkan operasional suatu usaha atau bagian dari suatu usaha.
·         Melakukan pembuatan atau pembelian bahan baku dalam proses produksi
·         Melakukan pembelian atau menyewa mesin-mesin produksi
·         Melakukan penerbitan saham atau melakukan negosiasi untuk memperoleh pinjaman bank guna meningkatkan modal kerja perseroan.
·         Berbagai keputusan lainnya yang memungkinkan manajemen melakukan pilihan yang tepat terhadap berbagai alternatif yang ada dalam mengelola perusahaan.

Analisis keuangan seringkali menilai suatu usaha berdasarkan :

·         Profitabilitas adalah kemampuan perseroan untuk menghasilkan suatu keuntungan dan menyokong pertumbuhan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Profitabilitas perseroan biasanya dilihat dari laporan laba rugi perseroan (income statement) yang menunjukkan laporan hasil kinerja perseroan.
·         Solvabilitas adalah kemampuan perseroan untuk memenuhi seluruh kewajibannya, yang diukur dengan membuat perbandingan seluruh kewajiban terhadap seluruh aktiva dan perbandingan seluruh kewajiban terhadap ekuitas
·         Likuiditas adalah kemampuan perseroan untuk memenuhi kewajiban lancarnya yang diukur dengan menggunakan perbandingan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar.
·         Stabilitas adalah kemampuan perseroan dalam mempertahankan usahanya dalam jangka waktu panjang tanpa harus menderita kerugian. Untuk menilai stabilitas perseroan digunakan laporan laba rugi dan neraca keuangan (balance sheet) perseroan serta berbagai indikator keuangan dan non keuangan lainnya.

d.      Pengertian Rasio Keuangan
Menurut Mahmud M.Hanadie Analisis rasio adalah penggabungan yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur  dengan unsur lainnya dalam laporan keuangan, hubungan antara unsur laporan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana.

Tujuan dari analisis ratio adalah untuk membantu manager finansial memahami apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan, berdasarkan informasi yang tersedia dan sifatnya terbatas.
Analisis ratio pada dasarnya tidak hanya berguna bagi kepentingan intern perusahaan saja melainkan juga pihak luar dan ini berbeda menurut kepentingan khusus dari analisis atau pihak yang berkepentingan.
           Analisis ratio berguna bagi para analisis intern untuk membantu manajemen membuat evaluasi mengenai hasil-hasil operasinya, memperbaiki kesalahan-kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan kesultan keuangan.
Jenis – Jenis Rasio Keuangan


A.    Liquidity Ratio {Rasio Likuiditas}

1.      Current Ratio {Rasio Lancar}
Current Ratio (CR) = Aktiva Lancar / Hutang Lancar X 100%  
Aktiva Lancar : kas, surat” berharga, piutang, & persediaan.
Hutang Lancar : hutang dagang, hutang wesel, hutang pajak, hutang gaji/upah, & hutang jangka pendek lainnya.
2.      Quick Ratio {Rasio Cepat}
Quick Ratio (QR) = Aktiva Lancar – Persediaan / Hutang Lancar
Menfokuskan pd komponen” aktiva lancar yg lebih lancar : surat” beharga, & piutang dihubungkan dengan hutang lancar atau hutang jangka pendek.

B.     Activity Ratio {Rasio Aktivitas}

1.      Receivable Turnover {Putaran Piutang}
Receivable Turnover = Penjualan Kredit Bersih Setahun / Rata-Rata Piutang   
Memberikan wawasan tentang kualitas piutang perusahaan {piutang dagang} & kesuksesan perushaan dalam mengumpulkan piutang dagang.
2.      Inventory Turnover {Perputaran Persediaan}
Inventory Turnover = Harga Pokok Penjualan / Rata-Rata Persediaan
Digunakan untuk mengukur efektivitas menajemen perusahaan dalam mengelola persediaan.
3.      Receivable Turnover in Day {Perputaran Piutang Harian}
Average Collection Period = Jumlah hari dalam Setahun / Pertukaran Piutang
Atau
Average Collection Period = Piutang X Jumlah Hari dalam Setahun / Penjualan Kredit
Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengumpulkan jumlah piutang dalam jangka waktu tertentu.
4.      Total Assets Turnover {Perputaran Aktiva}
Total Assets Turnove (TATO) = Penjualan Bersih / Total Aktiva
Digunakan untuk mengukur perputaran dari semua aset yang dimiliki perusahaan.

C.     Leverage {Debt} Ratio {Rasio Hutang}

1.      Debt Ratio {Rasio Hutang}
Debt Ratio = Total Hutang / Total Aktiva
Digunakan untuk mengukur berapa persen perusahaan yang dibelanjai dengan hutang.
2.      Total Debt to Equity Ratio {Rasio Total Hutang terhadap Modal Sendiri/Equita}
Total Debt to Equity Ratio = Total Hutang / Total Aktiva
Perbandingan total hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri (ekuitas)

D. Profitability Ratio {Rasio Keuntungan}

1.      Gross Profit Margin
Gross Profit Margin  = Penjualan Bersih – Harga Pokok Penjualan / Penjualan Bersih
2.      Net Profit Margin (Marjin Laba Bersih)
Net Profit Margin = Laba bersih setelah pajak / Penjualan Bersih
Keuntungan penjualan setelah menghitung seluruh biaya dan pajak penghasilan.
3.      Return on Investment (ROI)
Return on Investment  = Laba bersih setelah pajak / Total Aktiva
4.      ROI dan Pendekatan Dupont
ROI= EAT / Total Aktiva
5.      Return on Equity (ROE)
Return on Equity  = Laba bersih setelah pajak / Total Modal sendiri
Mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri.
6.      Rentabilitas Ekonomis
Rentabilitas Ekonomis = Laba usaha atau EBIT / Total Aktiva
Mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba usaha dengan aktiva yang digunakan untuk memperoleh laba.

BAB III
METODE ANALISIS

Laporan keuangan yang akan penulis analisis adalah terdiri dari dua perusahaan, yang pertama adalah sebuah perusahaan Jerman yang berada di Indonesia dan terdaftar di dalam Bursa Efek Indonesia yaitu PT. MERK, tbk. , sedangkan perusahaan kedua adalah perusahaan asal Indonesia yang terdaftar dalam Singapore Exchanges (SGX) yaitu PT. Indofood Agri Resources Ltd. Laporan perusahaan yang akan di analisis adalah laporan pkeuangan perusahaan pada tahun 2012, dan dengan menggunakan alat analisis sebagai berikut:
A.    Liquidity Ratio {Rasio Likuiditas}
1.      Current Ratio {Rasio Lancar}
Current Ratio (CR) = Aktiva Lancar / Hutang Lancar X 100%        
Aktiva Lancar : kas, surat” berharga, piutang, & persediaan.
Hutang Lancar : hutang dagang, hutang wesel, hutang pajak, hutang gaji/upah, & hutang jangka pendek lainnya.
2.      Quick Ratio {Rasio Cepat}
Quick Ratio (QR) = Aktiva Lancar – Persediaan / Hutang Lancar
Menfokuskan pd komponen” aktiva lancar yg lebih lancar : surat” beharga, & piutang dihubungkan dengan hutang lancar atau hutang jangka pendek.

B.     Activity Ratio {Rasio Aktivitas}
1.      Total Assets Turnover {Perputaran Aktiva}
Total Assets Turnove (TATO) = Penjualan Bersih / Total Aktiva
Digunakan untuk mengukur perputaran dari semua aset yang dimiliki perusahaan.

C.     Leverage {Debt} Ratio {Rasio Hutang}
1.      Debt Ratio {Rasio Hutang}
Debt Ratio = Total Hutang / Total Aktiva
Digunakan untuk mengukur berapa persen perusahaan yang dibelanjai dengan hutang.

           D. Profitability Ratio {Rasio Keuntungan}
1.      Net Profit Margin (Marjin Laba Bersih)
Net Profit Margin = Laba bersih setelah pajak / Penjualan Bersih
Keuntungan penjualan setelah menghitung seluruh biaya dan pajak penghasilan.
2.      Return on Investment (ROI)
Return on Investment  = Laba bersih setelah pajak / Total Aktiva
3.      Return on Equity (ROE)
Return on Equity  = Laba bersih setelah pajak / Total Modal sendiri
Mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri.


BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Liquidity Ratio {Rasio Likuiditas}
1.      Current Ratio {Rasio Lancar}
PT. MERK
PT. INDOFOOD AGRI RESOURCES

Analisisis:
Setiap Rp 1,- utang lancar di jamin oleh 3.87 aktiva lancar

Analisis:
Setiap Rp 1,- utang lancar di jamin oleh 1.80 aktiva lancar

2.      Quick Ratio {Rasio Cepat}
PT. MERK
PT. INDOFOOD AGRI RESOURCES

Analisis:
Setiap Rp 1,- utang lancar di jamin dengan quick assets sebesar 1.889


Analisis:
Setiap Rp 1,- utang lancar di jamin dengan quick assets sebesar 1.398


B.     Activity Ratio {Rasio Aktivitas}
1.      Total Assets Turnover {Perputaran Aktiva}
PT. MERK
PT. INDOFOOD AGRI RESOURCES









Analisis:
Setiap Rp1,- dari keseluruhan aktiva dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp 1.633.




Analisis:
Setiap Rp1,- dari keseluruhan aktiva dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp 0.397.


C.     Leverage {Debt} Ratio {Rasio Hutang}
1.      Debt Ratio {Rasio Hutang}
PT. MERK
PT. INDOFOOD AGRI RESOURCES


Analisis:
Bagian setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang .26.8% dari setiap rupiah aktiva  menjadi jaminan utang.


Analisis:
Bagian setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang . 34.4% dari setiap rupiah aktiva  menjadi jaminan utang.

D. Profitability Ratio {Rasio Keuntungan}
1.      Net Profit Margin (Marjin Laba Bersih)
PT. MERK
PT. INDOFOOD AGRI RESOURCES


Analisis:
Setiap Rp 1,- penjualan menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp 0,11

Analisis:
Setiap rupiah penjualan menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp 0,13

2.      Return on Investment (ROI)
PT. MERK
PT. INDOFOOD AGRI RESOURCES


Analisis:
Setiap Rp1,- dari keseluruhan aktiva dapat menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp0.18.


Analisis:
Setiap Rp1,- dari keseluruhan aktiva dapat menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp0.05.

3.      Return on Equity (ROE)
PT. MERK
PT. INDOFOOD AGRI RESOURCES

Analisis:
Setiap Rp1,- dari keseluruhan modal dapat menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp0.25.

Analisis:
Setiap Rp1,- dari keseluruhan modal dapat menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp0.16.

BAB V
KESIMPULAN

Jadi hasil dari analisis laporan keuangan yang telah penulis teliti adalah sebagai berikut:
Hasil analisis untuk perusahaan yang terdaftar di IDX, yaitu PT. MERK
  • Setiap Rp 1,- utang lancar di jamin oleh 3.87 aktiva lancar
  • Setiap Rp 1,- utang lancar di jamin dengan quick assets sebesar 1.889
  • Setiap Rp1,- dari keseluruhan aktiva dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp 1.633.
  • Bagian setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang .26.8% dari setiap rupiah aktiva  menjadi jaminan utang.
  • Setiap Rp 1,- penjualan menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp 0,11
  • Setiap Rp1,- dari keseluruhan aktiva dapat menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp0.18.
  • Setiap Rp1,- dari keseluruhan modal dapat menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp0.25.

Hasil analisis untuk perusahaan yang terdaftar di SGX, yaitu PT. IndofoodAgri Resources
  • Setiap Rp 1,- utang lancar di jamin oleh 1.80 aktiva lancar
  • Setiap Rp 1,- utang lancar di jamin dengan quick assets sebesar 1.398
  • Setiap Rp1,- dari keseluruhan aktiva dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp 0.397.
  • Bagian setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang . 34.4% dari setiap rupiah aktiva  menjadi jaminan utang.
  • Setiap rupiah penjualan menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp 0,13
  • Setiap Rp1,- dari keseluruhan aktiva dapat menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp0.05.
  • Setiap Rp1,- dari keseluruhan modal dapat menghasilkan keuntungan neto sebesar Rp0.16.


Lampiran


Daftar pustaka: